Definisi Akhlak
Akhlak adalah kata yang sangat sering kita dengarkan
sehari. Penggunaannya sudah sangat lazim dan secara sepintas sangat mudah untuk
mendefinisikannya. Dalam penggunaan sehari-hari akhlak sangat sering dimaknai
sebagai perbuatan baik. Saat ini, penulis akan mencoba mengkaji makna akhlah
secara lebih dalam.
Pembahasan pertama kita akan mengkaji gagasan
Bertran Russel. Russel adalah seorang materialis sehingga dia menganggap bahwa
manusia tidak lebih dari benda yang hidup dan memiliki akal. Baginya cinta,
kasih saying dan roh hanya kebohongan belaka.menurutnya, manusia tidak bisa
memahami keindahan dan keburukan. Baginya yang ada hanya lah naluri fisik. Jadi
yang menjadikan motif manusia untuk melakukan sesuatu adalah
kepentingan/keuntungan. Lebih jauh lagi, Russel menganggap bahwa seseorang yang
memiliki tingkat akhlak yang tinggi adalah orang yang mampu memperhitungkan
reaksi dari tindakan yang dia lakukan.
Misalnya, seseorang yang memberikan pertolongan dengan orang lain. Orang tersebut telah mempertimbangkan bahwa jika dia menolong orang lain, maka reaksi orang lain adalah memberinya hadiah. Itulah akhlak yang baik. Lalu bagaimana dengan akhlak yang buruk?akhlak yang buruk misalnya adalah seseorang yang melempari batu orang lain, karena reaksi yang ditimbulkan adalah pastilah orang tersebut akan membalas dengan lemparan batu pula. Oleh karena itu, menurut Russel jangan lah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena akan memberikan reaksi yang merugikan diri kita sendiri.
Misalnya, seseorang yang memberikan pertolongan dengan orang lain. Orang tersebut telah mempertimbangkan bahwa jika dia menolong orang lain, maka reaksi orang lain adalah memberinya hadiah. Itulah akhlak yang baik. Lalu bagaimana dengan akhlak yang buruk?akhlak yang buruk misalnya adalah seseorang yang melempari batu orang lain, karena reaksi yang ditimbulkan adalah pastilah orang tersebut akan membalas dengan lemparan batu pula. Oleh karena itu, menurut Russel jangan lah melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena akan memberikan reaksi yang merugikan diri kita sendiri.
Gagagasan Russel ini nampaknya sangat relevan dengan
kehidupan modern sekarang. Dimana rasa ikhlas, kasih sayang dan cinta sudah
luntur. Melihat gagasan Russel itu pula, tentu sangat kontradiktif dengan
ajaran islam. kita pun dapat mengkritik pemikiran Russel. Misalnya dengan
mempertanyakan apakah penzaliman yang dilakukan seorang raja kepada rakyat
miskin adalah akhlak yang baik?karena penzaliman yang dilakukan oleh raja
kepada rakyat miskin tidak akan mungkin melahirkan reaksi negative dari rakyat
miskin tersebut. Barangkali, semua orang telah sepakat bahwa penzaliman adalah
akhlak yang sangat buruk. Tetapi, jika kita berangkat dari ajaran Russeln tentu
saja penzaliman dapat dianggap akhlak yang baik.
Kemudian Plato, seorang filsuf Yunani yang sangat
terkenal mengidentikkan akhlak dengan keindahan. Untuk mencapai keindahan
tersebut maka kita harus mendidik potensi kita secara seimbang. Jangan
melakukan sesuatu terlalu baik dan jangan pula terlalu buruk. Lain pula dengan
ajaran Immanuel Kant. Walaupun Kant dan Plato mengaggap bahwa potensi manusia
telah ada secara fitrawi, akantetapi Kant menganggap bahwa tolak ukur akhlak
yang baik adalah intuisi fitrawi. Jadi setiap manusia telah memiliki intuisi
masing-masing. Misalnya, perasaan sedih ketika melihat orang lain menderita,
dorongan untuk berkata jujur dll. Gagasan ini sebenarnya mirip dengan apa yang
telah disampaikan noleh Alqur’an : Demi
jiwa dan penyempurnaannya, maka Dia ilhamkan kepada jiwa itu kebaikan dan
keburukan (Q.S. 91:8).
Ketika ayat berikut turun : saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan
tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” Datanglah seorang lelaki
bernama Wabishah. Ketika wabisha dating, Rasulullah pun berkata “wahai
Wabishah, perkenalkan aku untuk menebak apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku.
Kamu ingin menanyakan tentang kebaikan dan dosa?. “benar, wahai Rasul” jawab
Wabishah. Rasulullah pun meletakkan tangannya ke dada wabishah seraya berkata
tanyakanlah pada hatimu. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kebaikan dan
dosa telah melekat pada tubuh manusia masing-masing dan kita pun telah diberikan
akal untuk menimbang perbuatan mana yang dan yang buruk.
Kemudian kita akan membahas mengenai ajaran Hindu
terkait dengan akhlak. Mahatma Gandi menekankan bahwa inti dari akhlak yang
baik adalah mencintai orang lain. Misalnya atas dasar cinta maka kita harus
peduli dengan orang lain.akantetapi, hal ini menimbulkan kritik dari Muntada
Muntahari. Yang pertama tentu saja mengenai mengapa hanya cinta pada orang lain
yang merupakan akhlak yang baik? Bukankah ada seorang lelaki yang memberikan
air pada anjing yang kehausan dijamin masuk surga oleh Rasulullah? Cinta tidak
hanya dibatasi kepada sesame manusia tetapi juga dengan makhluk lainnya. Kedua
adalah tidak semua akhlak baik itu adalah cinta. Misalnya saja seseorang yang
dengan gagah berani mempertahankan diri dan hartanya dari serangan musuh. Ini
bukan didasarkan cinta dengan orang lain tapi apakah ini tidak termasuk akhlak
yang baik?
Terakhir kita akan membahas gagasan Muntada
Muntahari yang berkaitan dengan akhlak. Muntahari dalam bukunya falsafah akhlak
mengemukakan gagasannya dengan sangat panjang mengenai akhlak serta memberikan
banyak contoh. Akar berpikirnya tentu saja dari gagasan Islam.
Pertama kita harus membedakan dahulu antara
perbuatan akhlaki dan perbuatan alami, karena ada beberapa perbuatan alami yang
dianggap sebagai perbuatan akhlaki. Misalnya saja, ketika seorang ibu yang
sangat mencintai anaknya sehingga ibu tersebut merawat dan memelihara anaknya.
Perbuatan ini bukanlah perbuatan akhlaki tetapi perbuatan akhlaki. Seorang
induk kucing pun akan sangat menyayangi anak-anaknya. Sesuai kritikannya
terhadap ajaran Hindu, Muntahari pun menekankan pada perbuatan akhlaki tidak
hanya disandarkan pada perasaan mencintai orang lain atau melakukan sesuatu
untuk membahagiakan orang lain. Karena kesabaran dan istiqamah dilakukan tidak
disadasarkan atas kedua hal tersebut. Jadi, dari kedua premis tersebut, dapat
ditarik kesimpulan bahwa perbuatan akhlaki adalah perbuatan yang tidak secara
alami ada pada diri manusia dan dilakukan atas dasar usaha. Misalnya jika
seseorang menerima bantuan dari orang lain. Dengan usaha yang keras orang
tersebut berusaha membalas kebaikan orang yang telah memberikannya bantuannya.
Begitu pula dengan kesabaran. Tidak semua makhluk di dunia ini dianugrahkan
dengan kesabaran. Dengan usaha yang keras, seseorang akan melaksanakan
kesabaran. Kira-kira seperti itulah gagasan Muntahari mengenai akhlak.
Setelah selesai membahas mengenai definisi akhlak
maka akan timbul pertanyaan mengapa manusia membutuhkan akhlak? Manusia adalah
makhluk paradox. Manusia adalah makhluk yang terbaik, lebih baik dari semua
jenis makhluk yang ada dibumi, tetapi juga sekaligus manusia adalah makhluk
yang lemah dan serba kekurangan. Oleh karena itu, manusia dianugrahkan akal
sebagai potensi untuk menentukan suatu perbuatan baik. Hal ini senada dengan
sabda Rasulullah : “aku diutus untuk menyempurnakan akhlak luhur.”
C.2 Metode Penanaman Akhlak
Ada dua metode untuk menanamkan akhlak pada diri
manusia. Yang pertama adalah dengan jalan doktrinasi. Dengan melakukan
doktrinasi maka manusia akan tetap jalan dijalan yang benar. Misalnya saja
seorang tentara yang telah didoktrin akan kecintaannya pada Negara. Dengan
segenap kemampuan yang dimilikinya, tentara harus berjuang membela tanah air
dan harus rela mengorbankan apapun demi Negara. Metode doktrinasi ini banyak
dilakukan pada masa ini, karena relative lebih praktis.
Akantetapi, metode ini bersifat sementara dan tidak
kuat. Misalnya saja, jika ada orang yang menanyakan kepada tentara tersebut
untuk apa dia mengorbankan jiwa dan raganya kepada tanah air? Mengapa harus anda yang melakukan pengorbanan
yang begitu besar tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan kritis akan dapat mendobrak doktrin-doktrin
tersebut.
Metode kedua adalah dengan mengajarkan akhlak yang
baik dengan didasarkan pada logika-logika yang benar. Jika seorang tentara
telah diajarkan dengan alasan yang logis mengenai mengapa dia harus membela
negaranya tentu saja maka tentu saja keyakinan tersebut tidak akan tergoyahkan.
Karena jika telah memiliki alas an yang logis maka tentara tersebut akan dapat
menjawab apapun pertanyaan yang dapat menggoyahkan keyakinannya.
Jika melihat realitas sekarang, menurut penulis,
kedua metode tersebut harus direalisasikan secara proporsional. Misalnya,
pemahaman akan alasan logis tidak mungkin dilakukan pada anak-anak. Anak-anak
hanya bisa dilakukan doktrinasi. Yang kedua adalah di Bumi Indonesia ini, tidak
ada lagi yang tidak mengetahui alasan mengapa korupsi tidak boleh dilakukan.
Semua orang sudah tahu bahwa secara logis korupsi itu menyengsarakan baik bagi
rakyat dan bagi pelakunya. Tapi nyatanya tingkat korupsi di negeri ini tetap
juga sangat tinggi. Oleh karena itu, metode doktrinasi nampaknya masih relevan
untuk kita gunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar